STIE Isti Ekatana Upaweda (IEU) Yogyakarta kembali mengadakan kegiatan Seminar Konsentrasi ini dilaksanakan di Ruang 4ab Kampus 1 di Jl. Hayam Wuruk No. 20 pada pukul 13:30 – selesai. Kegiatan ini dipandu oleh ibu R.A Kusandhitasari Jayanigrum. dengan dilaksanakan seminar konsentrasi ini mahasiswa mampu mengetahui apa saja strategi pemasaran rumah sakit pasca pandemic.
Kegiatan Seminar Konsentrasi semester ganjil 2022 ini dihadiri oleh mahasiswa Angkatan 2019 (semester 7) dari berbagai konsentrasi, yaitu Manajemen Transportasi Udara, Manajemen Apotik dan Farmasi, Manajemen Rumah Sakit, dan Manajemen Pemasaran. Tema yang diangkat mengenai “Strategi Pemasaran Rumah Sakit Pasca Pandemi” yangdibawakan langsung oleh Bapak Heru Adi Prasetya, S.E., M.M., Ak., CA selaku Kabag Humas dan Marketing RS Bethesda Yogyakarta.

selaku Kabag Humas dan Marketing RS Bethesda Yogyakarta
dalam Seminar Konsentrasi bertema Strategi Pemasaran Rumah Sakit Pasca Pandemi
Sebelum membahas lebih lanjut soal Strategi Pemasaran Rumah Sakit Pasca Pandemi, beliau menyampaikan bahwa kita perlu memahami pengertian dari rumah sakit. Rumah sakit merupakan suatu organisasi yang memberikan pelayanan jasa yang memiliki keunikan tersendiri karena selain mempunyai misi sosial, juga harus menjalankan fungsi bisnisnya agar dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu, rumah sakit juga dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu dan biaya pelayanan yang terkendali yang berujung pada kepuasan pasien, serta memberikan kesejahteraan untuk staf dan perkembangan teknologi untuk menunjang pelayanan rumah sakit itu sendiri.
Masa pandemi Covid-19 juga menurunkan angka kunjungan di rumah sakit dan puskesmas sebesar 53 persen. Pandemi Covid-19 mengakibatkan adanya perubahan perilaku konsumen. Perubahan inilah yang perlu ditangani secepat mungkin sehingga tidak mempengaruhi perubahan perilaku konsumen yang berkepanjangan. Selain itu, hal terpenting adalah strategi pemasaran yang digunakan. Strategi pemasaran yang digunakan pada saat Covid-19, antara lain Telemedicine, Drive Thru (antigen, PCR dll), Potcast, dan IG, Twitter. Selanjutnya, tipe konten yang dilakukan terdiri dari dua konten yaitu Hard Selling dan Soft Selling. Hard selling sendiri yaitu menjual dan menawarkan produk secara langsung dan terang-terangan dengan gamba serta harga dan melakukan persuasi agar orang-orang membeli produk yang ditawarkan. Soft Selling sendiri yaitu tidak secara langsung melakukan penjualan dan penawaran produk tetapi lebih kepada memberikan edukasi yang membuat konsumen merasa percaya, nyaman dan senang serta mendapatkan banyak manfaat yang banyak.

Pada sesi tanya jawab, peserta antusias mengajukan pertanyaan kepada narasumber. Pertanyaan pertama diajukan oleh Indah Kumalasari dari kosentrasi Manajemen Transportasi Udara mengenai alasan mengapa para pengguna BPJS mendapatkan pelayanan yang sangat kurang. Menganggapi pertanyaan tersebut, Bapak Heru Adi Prasetya, S.E., M.M., Ak., CA mengatakan bahwa untuk di Yogyakarta sendiri, rumah sakit menerapkan program No Diskriminasi. Jika pihak rumah sakit atau pihak terkait diketahui melakukan kesalahan maka akan dicatat oleh dinas Kesehatan dan sejauh ini pengawasan di Yogyakarta sangat ketat sehingga belum ada kasus terkait pengguna BPJS mendapatkan pelayanan yang kurang.
Michael Gerald Magau dari kosentrasi Manajemen Transportasi Udara juga mengajukan tentang alasan mengapa ketika hendak mengurus surat rujukan dari pihak puskesmas atau rumah sakit, prosedurnya dirasakan agak mempersulit pasiennya. Narasumber memberikan jawaban bahwa BPJS di bagi lagi dalam beberapa kelas diantaranya PPK 1, 2 dan 3, dari puskesmas terdaftar. Ketika hendak memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit terdekat harus wajib menunjukan kartu BPJS bagi yang memiliki. Adapun aturan ketika dilakukan rujukan yaitu mulai dari PPK 1 dirujuk ke PPK 2 dan dari PPK 2 dirujuk ke PPK 3 dan dari PKK 3 barulah ke Rumah sakit yang bersangkutan. Semua langkah dan kelengkapan dokumen memang harus dipenuhi dan dijalani oleh pasien.
Selanjutnya, Ridho Fadhil juga dari kosentrasi Manajemen Transportasi Udara menanyakan tentang strategi signifikan dari pihak rumah sakit untuk bertahan pada saat pasien Covid-19 membludak. Bapak Heru Adi Prasetya, S.E., M.M., Ak., CA menyatakan bahwa berbagai strategi dengan bermacam kebijakan yang telah disusun dan ditetapkan oleh pemerintah dan pihak rumah sakit, seperti adanya jumlah tempat tidur yang khusus untuk para pasien Covid-19 dan jumlahnya disesuaikam dengan aturan yang ada.
Yunita dari kosentrasi Manajemen Rumah Sakit bertanya mengapa setelah melakukan vaksinisasi ada pasien yang mengalami demam bahkan meninggal dunia. Bapak Heru Adi Prasetya, S.E., M.M., Ak., CA mengatakan bahwa seperti yang kita ketahui sendiri bahwa pada saat kita melakukan vaknisasi yang diperiksa hanyalah tekanan darah. Hal inilah yang para penderita penyakita bawaan atau lain sebagainya tidak diketahui sehingga bisa terjadi hal tersebut. Moderator menambahkan sebaiknya pasien memberitahukan riwayat kesehatannya untuk menghindari hal ini terjadi.
Acara ini menjadi meriah dengan diberikannya hadiah berupa payung berukuran besar bagi para peserta yang mengajukan pertanyaan. Hal ini lah yang membuat acara kali ini menjadi lebih menyenangkan. Acara untuk kegiatan seminar kosentrasi akan kembali dilaksanakan di masa mendatang.
(medsosteam2022STIEIEUYogyakarta)